my blog

Welcome To my WORLD

Selasa, 16 Oktober 2012

Proses penentuan golongan darah



BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
Proses penentuan golongan darah pada manusia yaitu berdasarkan aglutinogen dan aglutinin. Aglutinogen adalah antigen-antigen dalam eritrosit yang membuat sel peka terhadap aglutinasi (penggumpalan darah). Aglutinin adalah substansi yang menyebabkan aglutinasi sel, misalnya antibodi.
Darah akan menggumpal jika kita tetesi anti serum A dan anti serum B. Fungsi dari anti serum A dan anti serum B adalah untuk mengetahui apakah darah akan menggumpal atau tidak, ketika bertemu dengan anti serum A dan anti serum B atau bisa dikatakan untuk mencari aglutinogen (zat yang digumpalkan).
Mungkin saja golongan darah seseorang dapat berbeda ketika sebelumnya ia sudah diperiksa ternyata diperiksa lagi hasilnya berbeda. Mungkin karena adanya kesalahan dalam salah satu pemeriksaan, bukan darahnya yang berubah.
BAB II
TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui golongan darah seseorang.
BAB III
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
1.      Waktu : Jum’at, 11 Nopember 2011
2.      Tempat Pelaksanaan : Laboratorium SMAN 1 Jatiwangi
BAB IV
ALAT DAN BAHAN
1.      Alat :
1)      Jarum
2)      Kaca objek
3)      Pengaduk (tusuk gigi)
4)      Pipet
2.      Bahan :  
1)      Kapas
2)      Alkohol 70%
3)      Serum anti A dan serum anti B



BAB V
CARA KERJA :
1.      Membersihkan ujung jari tengah dengan kapas yang dibasahi oleh alkohol 70%
2.      Mengusap jarum dengan kapas beralkohol 70%, kemudian menusukkan jarum tersebut ke ujung jari tengah. Lalu memijit ujung jari tengah agar darah mudah keluar, kemudian meneteskan darah yang keluar pada kaca objek A dan juga pada kaca objek B.
3.       Ketika darah sudah menetes, lalu membersihkan ujung jari tengah dengan alkohol 70% lagi, agar tidak terkena infeksi.
4.      Memberi setetes serum anti A pada darah dikaca objek A dan serum anti B pada darah dikaca objek B.
5.      Mengaduk tetesan darah yang telah ditetesi serum dengan tusuk gigi.
6.      Mengamati hasilnya, apakah terjadiperubahan atau tidak?
Jika :
a)      Darah di A menggumpal sedangkan di B tidak, maka termasuk golongan darah A.
b)      Darah di A tidak menggumpal sedangkan di B menggumpal, maka termasuk golongan darah B.
c)      Darah di A dan di B menggumpal, maka termasuk golongan darah AB.
d)      Darah di A dan di B tidak menggumpal, maka termasuk golongan darah O (nol).
7.      Apabila sudah mengetahui golongan darah kita itu apa, maka mencatatnya dalam tabel hasil pengamatan.










BAB VI
HASIL PENGAMATAN
Data golongan darah siswa kelas XI IPA 1
NO

NAMA
GOLONGAN DARAH
SEBELUM
HASIL PRAKTIKUM DISEKOLAH
1.
Ade Mairina Ulfah
B
B
2.
Adi Tri Hartanto
-
O
3.
Alfi Nur Ramadiansyah F
-
B
4.
Any  Harny B S
A
A
5.
Astri Julianari Nurhasanah
B
B
6.
Chairil Syadudin
O
O
7.
Dede Afif Permana
-
O
8.
Dicky Iskandar Hadiana
O
O
9.
Dina Andriani
-
A
10.
Ea Nurhayati
-
O
11.
Ema Firda Amanda
-
A
12.
Eri Mauliani Tania
AB
AB
13.
Fathia Nurhanifatunnisa
B
B
14.
Fikri Khairun Akbar
AB
AB
15.
Fredhi Gunawan
O
O
16.
Gita Risda Garnisya
-
B
17.
Gringo Santosa Zacharia
A
A
18.
Ida Royani
-
AB
19.
Ika Rossika
-
B
20.
Ikrar Ananda Pamungkas
-
B
21.
Ine Kinanti
-
B
22.
Irma Nurhodijah
O
O
23.
Irni Nurbaetisari
B
B
24.
Iyan Alfian Wijianto
O
O
25.
Krisna Dwi Angga
B
B
26.
Lena Yuliana
A
A
27.
Leni Ismawati
AB
AB
28.
Lidzikri Ilham Fauzi
-
B
29.
Linda Fitri Amalia
B
B
30.
Lugina Fitriani Khaerunnisa
-
A
31.
M. Alinurdin
B
B
32.
M. Ibnu Maliki
B
B
33.
M. Hilman Luthfi
A
A
34.
Neni Karina
-
A
35.
Nisa Nurhafsah
AB
AB
36.
Putra Santika Utama
-
B
37.
Ratnawati Bernita
B
O
38.
Revi Adriantini
-
A
39.
Riri wahyu Syahrizal
-
A
40.
Rizky Agung Laksono
AB
AB
41.
Ryan Afriyana
-
B
42.
Siska Dewi Veronika
B
B
43.
Siti Nur Alfiyah
B
B
44.
Suwandari Martalina
O
O
45.
Tia Kartika Setianingsih
B
B
46.
Toni Abdul Azis
-
B
47.
Wiyarti Rimadiyani
A
A
48.
Sindy Siti Haura
-
A


BAB VII
PEMBAHASAN
Untuk menentukan golongan darah seseorang  adalah dengan mencocokkan ketentuan sebagai berikut :
1. Bila sample darah + zat anti A = menggumpal, tetapi bila sample darah + zat anti B = tidak menggumpal. Berarti termasuk golongan darah A.
2. Bila sample darah + zat anti A = tidak menggumpal, tetapi bila sample darah + zat anti B = menggumpal. Berarti termasuk golongan darah B.
3. Bila sample darah + zat anti A = menggumpal dan bila sample darah + zat anti B =    menggumpal. Berarti termasuk golongan darah AB.
4. Bila sample darah + zat anti A = tidak menggumpal dan bila sample  darah + zat anti B = tidak menggumpal. Berarti termasuk golongan darah O.
Dari 48 siswa yang diperiksa golongan darahnya, maka berdasarkan hasil praktikum diperoleh data sebagai berikut :
1.      Golongan Darah A = 12 siswa = 25%
2.      Golongan Darah B = 20 siswa = 41,67%
3.      Golongan darah O = 10 siswa = 20,83%
4.      Golongan Darah AB = 6 siswa = 12,5%
Jadi, di kelas XI IPA 1 diperoleh data yaitu bahwa golongan darah B paling banyak sementara golongan darah AB paling sedikit.





BAB VIII
KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan :
1.      Golongan darah digolongkan menjadi 4 (empat) macam yaitu A, B, AB. dan O.
2.       Golongan darah dapat diketahui dengan tes golongan darah menggunakan anti serum A dan anti serum B.
3.      Perbedaan golongan darah terjadi karena adanya perbedaan gen


DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, D.A. Maryati, Sri. Srikini. Suharno. S, Bambang. 2006. Biologi SMA Jilid 2   untuk Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Proses osmosis pada kentang



BAB I
 TINJAUAN PUSTAKA
            Osmosis adalah perpindahan molekul air dari larutan yang encer (hipotonis) ke larutan yang pekat (hipertonis) melalui sekat yang bersifat “selektif semi permeable”.
            Dalam kegiatan sehari-hari osmosis terjadi pada saat kita menyiram tanaman. Karena pada saat itu air masuk ke tubuh tanaman. Dan apabila kita mengadakan praktikum, peristiwa osmosis dapat terjadi pada umbi kentang yang direndam dalam larutan gula dan air suling.

BAB II
TUJUAN
          Tujuan dari praktikum ini adalah membuktikan terjadinya proses osmosis pada umbi kentang dan dapat mengetahui  larutan yang bersifat hipotonis dan hipertonis terhadap cairan sel kentang.

BAB III
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
       I.            Waktu : Jum’at, 16 September 2011
    II.            Tempat Pelaksanaan : Laboratorium SMAN 1 Jatiwangi

BAB IV
ALAT DAN BAHAN
       I.            Alat :
1.      Timbangan
2.      Gelas kimia 4 buah
3.      Pisau/silet
4.      Mistar
    II.            Bahan :
1.      Umbi kentang
2.      Air suling 100 ml
3.      Larutan gula 5%, 10% dan 30% masing-masing 100 ml
4.      Tisu




BAB V
CARA KERJA
1.      Membuat 4 buah irisan umbi kentang berbentuk persegi
2.      Menimbang tiap irisan umbi kentang dan dicatat hasilnya dalam tabel
3.      Memasukan tiap irisan umbi kentang ke dalam larutan gula 5%, larutan gula 10%, larutan gula 30%, dan air suling secara bersamaan
4.      Membiarkan irisan umbi kentang tersebut direndam selama 30 menit
5.      Setelah 30 menit, mengangkat tiap irisan umbi kentang dan digulingkan diatas tisu sampai mengering
6.      Menimbang kembali tiap irisan umbi kentang dan dicatat hasilnya dalam tabel
7.      Mengamati keadaan lembeknya tiap irisan umbi kentang dengan jari dan dicatat hasilnya dalam tabel

BAB VI
HASIL PENGAMATAN
            Tabel pengamatan irisan umbi kentang
Nomor
irisan
Perlakuan
Berat (gr)
Keadaan
keras/lembek
Awal
Akhir
1.
Dalam air suling
3,1 gr
3,2 gr
Keras
2.
Dalam larutan gula 5%
2,7 gr
2,8 gr
Lembek ke-3
3.
Dalam larutan gula 10%
2,88 gr
2,9 gr
Lembek ke-2
4.
Dalam larutan gula 30%
2,63 gr
2,43 gr
Lembek ke-1









BAB VII
PEMBAHASAN

1.      Dari hasil pengamatan tabel nomor 1, berat kentang sebelum direndam yaitu 3,1  gr. Setelah perendaman dalam larutan air suling beratnya bertambah menjadi 3,2 gr dan tekstur kentang keras.
 Untuk kentang yang direndam dalam air suling , air suling masuk ke dalam sel-sel kentang, karena sel-sel kentang hipertonis dibandingkan air suling. Akibat dari masuknya air  suling ini menyebabkan isi sel bertambah, dan inilah yang menyebabkan kentang menjadi keras dan beratnya bertambah.

2.      Dari hasil pengamatan tabel nomor 2, berat kentang sebelum direndam yaitu 2,7  gr. Setelah perendaman dalam larutan larutan gula 5% beratnya bertambah menjadi 2,8 gr dan tekstur kentang lembek ke-3.
Untuk kentang yang direndam dalam larutan gula 5% , air larutan masuk ke dalam sel-sel kentang, karena sel-sel kentang hipertonis dibanding larutannya. Akibat dari masuknya larutan gula 5% ini menyebabkan isi sel bertambah, dan inilah yang menyebabkan kentang menjadi agak lembek  (ke-3) dan beratnya bertambah.

3.      Dari hasil pengamatan tabel nomor 3, berat kentang sebelum direndam yaitu 2,88 gr. Setelah perendaman dalam larutan larutan gula 10%  beratnya bertambah menjadi 2,9 gr dan tekstur kentang  lembek ke-2.
Untuk kentang yang direndam dalam larutan gula 10% , air larutan masuk ke dalam sel-sel kentang, karena sel-sel kentang hipertonis dibanding larutannya. Akibat dari masuknya larutan gula 10% ini menyebabkan isi sel bertambah, dan inilah yang menyebabkan kentang menjadi agak lembek (ke-2) dan beratnya bertambah.

4.      Dari hasil pengamatan tabel nomor 4, berat kentang sebelum direndam yaitu 2,63  gr. Setelah perendaman dalam larutan larutan gula 30% beratnya berkurang menjadi 2,43 gr dan tekstur kentang  lembek ke-1 yakni paling lembek dari yang lainnya.
Saat kentang direndam dalam larutan gula 30% akan terjadi perpindahan air secara osmosis dari sel-sel kentang keluar menuju ke larutan gula 30%. Perpindahan air ini terjadi karena sel-sel kentang hipotonis terhadap laruta





BAB VIII
KESIMPULAN

Ø  Osmosis merupakan perpindahan molekul air dari larutan encer ke larutan pekat.
Ø  Larutan hipertonis adalah larutan yang memiliki konsentrasi tinggi terhadap konsentrasi sel kentang, sehingga menyebabkan air keluar dari sel kentang dan berat serta volume kentang akan berkurang.
Ø  Larutan hipotonis adalah larutan yang memiliki konsentrasi rendah dibandingka cairan sel kentang, sehingga menyebabkan pelarut masuk ke dalam sel kentang dan terjadi penambahan berat dan volume kentang.
Ø  Bila sebuah sel dalam keadaan hipertonis dan disimpan dalam keadaan hipotonis maka terjadi lisis (membesar). Seperti dalam kentang yang direndam dalam air suling, larutan gula 5% dan larutan gula 10%.
Ø  Bila sebuah sel dalam keadaan hipotonis dan disimpan dalam keadaan hipertonis maka terjadi krenasi (mengkerut). Seperti dalam kentang yang direndam galam larutan gula 30%.

BAB IX
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, D.A. Maryati, Sri. Srikini. Suharno. S, Bambang. 2006. Biologi SMA Jilid 2   untuk Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Juwilda.  2011. Proses Osmosis pada kentang (http://juwilda.blogspot.com/proses-osmosis-pada-kentang.html/  15 Oktober 2011)